Nyampah lagi ah... Galau pengen cepetan koid...
Kenapa mencintai harus sesakit ini...
Mengapa tak pernah ada ketulusan dalam kisah cintaku..
Kenapa aku yang harus mengalah...
Menangis lagi...
Mengeluarkan air. .
Yang tak akan berhenti sampai esok..
Sampai benar-benar hatiku mati...
Mengunci kembali bersama dinding tinggi...
Menjulang tinggi hingga tak akan tergapai lagi.
.
Tuhan...
Ambillah nyawaku..
Aku siap mati tuhan...
Aku siap merasakan nerakamu...
Jika itu adalah siksaan terakhirku...
Ambillah nyawaku tuhan..
Sudah cuuyp fisikku kau kurangi...
Jangan tambahi beban ku dengan sakit dihatiku tuhan...
Ambillah nyawaku..
HK
Hikari Hitsugaya
Selamat datang di Blog anak remaja dimana curahan karya Author dan beberapa ilmu sekolah yang Author dalami
Sabtu, 03 Oktober 2015
Rabu, 09 September 2015
Selamat Tinggal Hari
Aku mendongak
Menatap langit
Warna yang menyilaukan
Menggambarkan sebuah harapan
Musim panas
Sebentar lagi kan usai
Perlahan berganti air
Dan perlahan menyerap kerinduan
Di musim ini aku terlahir
Di musim ini aku belajar
Di musim ini pula aku terasadar
Betapa menenangkannya ini
Betapa menenangkannya dihati
Aku akan merindukanmu sebentar lagi
Selamat tinggal dan selamat pergi
Dear love,
HK
Menatap langit
Warna yang menyilaukan
Menggambarkan sebuah harapan
Musim panas
Sebentar lagi kan usai
Perlahan berganti air
Dan perlahan menyerap kerinduan
Di musim ini aku terlahir
Di musim ini aku belajar
Di musim ini pula aku terasadar
Betapa menenangkannya ini
Betapa menenangkannya dihati
Aku akan merindukanmu sebentar lagi
Selamat tinggal dan selamat pergi
Dear love,
HK
Senin, 07 September 2015
My Heart
I know you
in my heart
i always miss you
Aku tahu semua ini salah
Aku tahu seharusnya tak begini
Tapi inilah jalan yang kupilih
Maafkan aku tlah mengecewakanmu
Sahabatku
I am sorry
Mungkin setelah ini kau akan tahu
Siapa aku?
Monster seperti apa aku ini?
Karena kau mengenalku sebagai gadis biasa yang pandai tapi sembunyi..
Aku tak mau mengakui itu
Tidak sekarang
Dàn selamanya
My Friends-RS
in my heart
i always miss you
Aku tahu semua ini salah
Aku tahu seharusnya tak begini
Tapi inilah jalan yang kupilih
Maafkan aku tlah mengecewakanmu
Sahabatku
I am sorry
Mungkin setelah ini kau akan tahu
Siapa aku?
Monster seperti apa aku ini?
Karena kau mengenalku sebagai gadis biasa yang pandai tapi sembunyi..
Aku tak mau mengakui itu
Tidak sekarang
Dàn selamanya
My Friends-RS
Jumat, 30 Januari 2015
Kenangan - Puisi
Terbayang sebuah masalalu
Aku tersenyum mengingatmu
Kenangan indah tentangmu
Dan juga diriku...
Jalan yang kupilih
Pergi menyendiri bersama sepi
Tinggalkan anganku menggapaimu lagi
Sungguh aku masih menanti
Keinginamu tuk menghampiri
Cinta?
Apakah ini yang kurasa?
Disaat kau tak ada
Hati ini begitu hampa
Hanya kenangan manis yang kan buatku mendamba
Mendamba kasih dan sayangmu lagi...
Disisi...
Aku tersenyum mengingatmu
Kenangan indah tentangmu
Dan juga diriku...
Jalan yang kupilih
Pergi menyendiri bersama sepi
Tinggalkan anganku menggapaimu lagi
Sungguh aku masih menanti
Keinginamu tuk menghampiri
Cinta?
Apakah ini yang kurasa?
Disaat kau tak ada
Hati ini begitu hampa
Hanya kenangan manis yang kan buatku mendamba
Mendamba kasih dan sayangmu lagi...
Disisi...
Tetesan Batu Nisan - Cerpen
Seorang pemuda tengah
berjalan santai menuju sekolahnya, sekolah yang selama tiga tahun ini
menemaninya dalam mengenyam pendidikan. Sosoknya yang tinggi dan kulitnya yang
putih sedikit kecoklatan ditambah dengan warna rambutnya yang coklat dan mata
emeraldnya yang berwarna layaknya daun dimusim gugur. Sosok itu tengah
menenteng bola basket ditangan kirinya, seperti kebiasaannya setiap hari yaitu
bermain basket sebelum kelas akan dimulai.
Nama pemuda itu
adalah Ervin Anthara Putra, eorang senior diklub basket SMA nya. Sampai
disekolah seperti kebiasaannya setiap kali sampai disekolah. Main basket.
“Yo Vin, seperti
biasa yah!” sapa teman seangkatannya yang sama-sama anggota basket yang
langsung memasang defence didepan Ervin. Temannya yang sangat humoris serta
memiliki kepribadian ganda jika harus dipisahkan mana permainan basket dan mana
tidak. Darian pratama atau yang akrab disapa Rian itu memiliki mata nan rambut
berwarna hitam, saat ini ia sedang memasang wajah seriusnya, hilang sudah sosok
humoris yang murah senyum setiap harinya itu.
“Yo!” balas Ervin
menggunakan sapaan khas mereka dan mulai memantulkan bola basketnya itu.
Mendrible kanan dan kiri dengan kecepatan diatas rata-rata.
Dengan cepat Ervin
mengecoh Rian dengan drible’an khasnya yang sangat unik itu, perlahan ia
melambatkan alurnya dan membuat seolah-olah bola itu akan lepas. Dan rian
termakan lagi pemainannya itu untuk kesekian kali. Dia melewati celah yang
dibuat Rian tanpa sadar, dan memasukkan bola itu kedalam ring yang ternyata
bersamaan dengan turunnya hujan.
“Ck sial kenapa harus
hujan sih. Ayo Yan kembali kekelas!” ajaknya langsung yang dibalas anggukan
malas dari Rian karena ia harus kalah lagi dalam one on one mereka untuk yang
kesekian kali tanpa bisa membalasnya hari ini karena hujan turun.
Sebenarnya masalah
hujan itu bukan berada pada sosok Rian melainkan sosok Ervin yang entah mengapa
sangat membenci anugerah tuhan yang satu ini. Entah apa yang membuat Ervin tak
menyukai hujan, padahal saat ia pertama mengenal Ervin sewaktu SMP. Ervin adalah
sosok yang sangat menyukai hujan dari lubuk hatinya.
‘Mungkinkah karena Aira dulu?’ dalam hati ia bertanya. Sedangkan Ervin memandang
hujan dari dalam kelasnya setelah mereka sampai dikelas. Pandangannya memang
mengarah kearah hujan diluar sana tapi fikirannya melayang jauh dimasa silam.
‘Bagaimana keadaanmu disana Aira?’ tanya Ervin dalam hati.
. . . . . . .
Pulang sekolah,
dengan santainya Ervin berjalan kearah pemakaman kota disana, dengan berjalan
kaki yang otomatis membuat sepatunya kotor karena sisa-sisa hujan yang membuat
tanah yang berada disana menjadi gembur.
Sampai didepan sebuah
pusara yang selalu ia kunjungi setiap kali pulang sekolah. Pusara yang hanya
diletakkan sebuah batu nisan untuk mengenalinya itu. Disana tertulis sebuah
nama ‘Aira Afira Putri binti Raditya’
, yah makam dimana ia mulai membenci hujan semasa ia SMP.
. . . . . . .
-Flash
back-
3
tahun lalu...
Sosok gadis manis
berjalan berdampingan dengan sosok pemuda yang tak lain adalah kakak
kandungnya. Dengan senyuman merekah dibibirnya yang menandakan perasaannya yang
sangat bahagia. Rambut coklatnya yang lurus nan panjang ia kuncir kuda dengan
mata coklatnya yang tajam, kontras dengan perawakannya yang lembut. Yah sosok
Aira Afira Putri adik kandung dari Ervin Anthara Putra.
“Bolehkah aku meminta
kak?” tanya Aira lembut kearah sang kakak.
“Boleh mau minta apa
sayang?” tanya kakaknya lembut yah sosok Ervin yang begitu lembut.
“Aku ingin ketaman
bermain kak.” Pintanya memelas yang langsung di sanggupi sang kakak dengan senyuman
yang hangat di bibirnya. Kakak yang penuh perhatian dan kasih sayang kepada
adik semata wayangnya itu yah sosok Ervin saat itu adalah sosok yang lemah
lembut nan penyayang walaupun umur mereka hanya terpaut dua tahun itu tak
sedikitpun mengurangi kasih sayang Ervin kepada Aira.
Aira dengan senyuman
yang tak lepas dari bibirnya itu menyeret Ervin pergi menuju taman bermain
dipusat kota yang sedang dioperasikan hari ini. Siapa yang akan menyengka gadis
kecil itu memiliki sebuah penyakit mematikan yang tak diketahui siapapun
kecuali keluarganya, sebuah Kanker darah yang ia derita semenjak dua tahun
lalu. Apa yang terjadi pada gadis itu, sebuah penyakit mematikan itu tak
sedikitpun mengurangi semangatnya dalam menjalani hidup. Yah, gadis kecil yang
penuh dengan energi positif didirinya.
Sampai disana dengan
semangat ia menarik Ervin kearah penjual es krim, bukannya ingin bermain wahana
yang ada disana tapi setiap kali ketaman bermain pasti yang diincar adalah
eskrim nya. “Jangan makan es krim sayang, ini musim penghujan!” peringat Ervin
lembut tapi hal itu menyebabkan sebuat kerucutan dibibir Aira muncul. Dia
adalah gadis yang keras kepala apapun yang ia inginkan harus terpenuhi jika
bersama kakak satu-satunya itu.
“Kak kumohon! Sekali
ini saja yah!” pintanya memelas kearah kakaknya itu.
Ervin mengangguk tak
kuasa untuk menolak permintaan adik semata wayangnya itu. Dua buah es krim
telah sampai ketangan dua remaja yang hendak tumbuh itu, Ervin memakan
eskrimnya dengan cepat berbeda dengan Aira yang melambatkan acara makannya itu.
Sebuah awan yang
menghitam menarik perhatian Ervin untuk meliriknya. “Sebentar lagi akan hujan,
ayo kita segera pulang!” ajak Ervin yang dibalas gelengan kepala dari sang
Adik.
“Tidak kak sebentar
lagi, kau kan tahu aku suka sekali dengan hujan.” Jawab Aira. Yah gadis itu
sangat menyukai hujan, dan hal itulah yang mendorong Ervin menyukai anugerah
tuhan satu itu.
Ervin mengangguk, tak
jauh darisana ia melihat siluet pemuda yang tak asing dimatanya. Yah ia yakin
mengenal pemuda itu. Dengan percaya diri ia memanggil pemuda itu kearahnya.
“Rian!” teriaknya,
siluet pemuda itu bebralik mencari siapakah gerangan yang memanggilnya, dan
saat mata mereka saling bertemu Rian tersenyum manis seperti biasa.
Rian berjalan kearah
dimana Ervin nan juga Aira duduk untuk menikmati eskrimnya tadi. Dengan
senyuman merekah dibibirnya ia lnagsung merubah senyum itu dengan senyuman
menggoda khas dirinya begitu sampai dihadapan Ervin dan juga Aira.
“Cie pacar baru yah!”
goda Rian yang mendapat sambutan pipi Aira yang memerah malu.
“Bukan.” Sanggah
Ervin cepat.
“Lalu siapa?”
tanyanya penasaran, sebenarnya jarang sekali melihat Ervin membawa jalan-jalan
seorang gadis biasanya ia akan membawa anjingnya jika keluar.
“Perkenalkan, dia
adik kandungku Aira Afira Putri, dan Ra dia teman kakak di kelas dan juga
dibasket Darian Pratama kau kenal dia kan?” Aira mengangguk, ia memang mengenal
Rian yang notabe nya anak terpopuler bersama kakaknya di olahraga yang disebut
basket.
Aira mengulurkan
tangannya saat melihat sosok Rian yang mulutnya sedang menganga, ekspresi
berlebihan yang ditunjukkan Rian itu membuat senyum Aira semakin lebar. “Aira!”
ucapnya tak lupa dengan senyuman manisnya yang tak lepas itu.
“Eh eh aku Darian
panggil saja Rian.” Tak mau menyia-nyiakan uluran tangan itu dengan segera ia
menyambarnya tak lupa dengan senyuman khas miliknya setiap hari. “Oh aku baru
tahu kau punya adik Vin?” tanya Rian setelah jabat tangan singkat itu terlepas.
“Aku tak memberitahu
siapapun.” Jawab Ervin datar, Rian hanya memiringkan wajahnya bingung.
“Kakak ku satu ini
pasti akan memang tak memberitahukan tentang keluarganya sejak dulu bukan? Kan
memang sifat dasar kakak seperti itu.” Ujar Aira sambil meledek kearah kakaknya
dengan matanya.
Rian mengengguk paham
apa yang dimaksud Aira. “Memang kan nih anak satu tertutup banget Ra, iya kan?”
pertanyaan Rian yang dibalas anggukkan semangat dari Aira.
“Sepertinya kita
mudah berkomunikasi yah!” ucap Aira tersenyum lalu ber-tos ria dengan Rian.
“Seharusnya tadi aku
tak usah memanggilmu jika aku harus diabaikan begini.” Ujar Ervin dengan
dengusan dibirnya.
Kedua orang itu yang
merasa tersindir hanya tertawa riang mengabaikan dengusan Ervin yang semakin
parah. “Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang humoris begini.
Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku telah pergi nanti!” ucap Aira polos dan
tanpa sadar mengucapkan kata yang mungkin sangat dibenci oleh sosok Ervin.
“Apa maksudmu berucap
begitu Ra?” tanya Ervin geram, ia tak mau kehilangan adik satu-satunya itu.
“Eh Vin gak usah
marah, gak sengaja dia Vin!”Lerai Rian yang memang tak menyadari penyakit Aira.
Hampir saja Ervin membuka mulutnya lagi sebuah rintikan hujan nan kecil-kecil
itu jatuh mengenai tubuh mereka bertiga.
Aira mendongak
menatap rintikan hujan yang kian lama berubah menjadi deras itu. Ia tak
beranjak dari posisinya berdiri begitu juga Ervin yang dengan setia menemaninya
bermain hujan. Berbeda dengan Rian yang sudah berteduh dibawah poson yang dekat
dengan tempat itu. “Hey Aira jangan main hujan, sini ikutan berteduh
denganku!”Ajaknya kearah Aira mengabaikan Ervin yang memang setiap kali ia ajak
berteduh dari hujan selalu menolaknya mentah-mentah.
Aira hanya
menggeleng, mengibaskan rambut basahnya itu dan berteriak kencang. “KARENA AKU
SUKA HUJAN!” Teriaknya kearah Rian yang membuat pemuda itu tertegun. Jawaban
yang sama seperti yang Ervin beikan padanya setiap kali ia mengajak pemuda itu
berteduh.
‘Karena aku suka Hujan!’ kalimat itu masih ia ingat jelas dalam memori
otaknya.
Rian tersenyum
memandang dua insan yang saling tersenyum itu, mereka menikmati guyuran hujan
yang deras dikota itu dengan senyuman yang tak lepas sedikitpun dari bibir
Aira. Bahkan ia tak tahu jika Aira memiliki sebuah penyakit mematikan.
. . . . . . .
Malah harinya dirumah
sakit umum kota itu, sosok ringkih tertidur lemah diatas tempat tidup pasien
dengan beberapa alat medit berada ditubuhnya. Sosok gadis yang beberapa saat
lalu dinyatakan kritis oleh dokter spesiailis khusus menanganinya. Diluar
ruangan itu sosok paruh baya tengah menghardik anaknya yang paling besar.
“Bagaimana bisa
begini? Kau membiarkannya bermain hujan lagi!” hardik Raditya kearah Ervin yang
hanya dibalas Ervin dengan menundukkan kepala, ia tak berani melihat kearah
mata Ayah kandungnya tersebut dan sesekali melirihkan kata maaf yang tak
burujung dari bibirnya.
“Bapak dan Saudara
dari Aira, kalian diminta masuk oleh gadis itu.” Ujar sang dokter yang langsung
mendapat balasan gerakan dari keduanya.
Sampai diruangan
bercat putih nan penuh bau obat-obatan itu mereka terdiam. Aira membuka matanya
perlahan. “Ayah ! kakak!” panggilnya lirih, ingin sekali ia tersenyum tapi tak
bisa.
“Jangan memaksakan
dirimu Ira!” lerai sang ayah yang melihat sosok itu sedang berusaha tersenyum
yang sangat sulit untuk dilakukan.
“Ayah jangan marah ke
kak Ervin ya! Aku yang minta kak Ervin membiarkanku bermain hujan.” Perintah
Aira walaupun suaranya lirih tapi cukup untuk didengar kedua orang yang paling
ia cintai tersebut.
“Ya Ayah janji
sayang.” Janji Ayahnya itu. Lalu pandangannya beralih kearah kakaknya.
“Kakak jangan
menyalahkan diri kakak, Aira senang sekali kak bisa membuat kak Ervin tertawa
setiap hari. Tapi maaf kak Aira harus pergi.” Ucap Aira dengan nada menyesal
didalamnya.
“Jangan tinggalkan
kakak Ra!” pinta Ervin, ia tak mau kehilangan adiknya itu, adik yang selalu
mewarnai hidupnya itu.
“Maafkan Aira kakak
dan juga Ayah!” Raditya mengangguk, lalu Aira menutup matanya perlahan detak
jantungnya melemah dan melemah hingga suara memilukan dari alat pendetek detak
jantung itu berbunyi nyaring.
“TIDAK, TIDAK
MUNGKIN! AIRA GAK PERGI KAN YAH? AIRA GAK PERGI KAN?” Tanya Ervin kepada sosok
ayahnya yang bungkam itu. Ayahnya hanya tersenyum tipis nan penuh kepedihan.
“TIDAK, SEMUA INI HANYA MIMPI. AIRA TAK AKAN PERGI NINGGALIN AKU AYAH!” Ucap
Ervin histeris lalu mendekati sosok gadis yang tubuhnya perlahan memucat itu.
“Aira kan janji pada
kakak ya? Aira gak akan ninggalin kakak kemanapun? Tapi kenapa Aira pergi hari
ini?” tanyanya pilu. Raditya yang melihat anak sulungnya bertanya kepada mayat
anak bungsunya langsung memeluk sosok anak sulungnya itu erat. Memberikan
kekuatan untuk Ervin.
Ervin hanya menangis
terisak dalam pelukan Ayahnya. Hari ini hari terakhir ia dapat melihat sosok
Adiknya yang paling riang, ceria nan penuh semangat itu.
. . . . . . .
Dipagi hari disekolah
SMP Permata Bangsa itu, sosok Rian sedang dipenuhi tanda tanya besar di dalam
kepalanya. Ervin tak masuk hari ini dan hal itu membuat Rian keheranan. Jam
istirahat ia berencana untuk menemui sosok Aira yang ia ketahui juga bersekolah
di SMP yang sama dengannya, adik kelas nya dikelas satu itu.
Jam istirahatpun tiba,
dengan segera ia menuju koridor anak kelas tujuh dan kelas yang ditempati Aira
setelah ia bertanya kepada adik-adik kelasnya yang lain.
“Hey lihat Aira
tidak?” tanyanya kearah salah satu anak dikelas itu, anak gadis itu menggeleng
dan menjawab pertanyaan Rian dengan senyum pedih.
“Ia tak masuk kak,
ada pesan? Nanti akan kuberitahukan kakaknya.” Ucap gadis itu dengan senyum
yang dipaksakan.
“Ah aku hanya tanya
dimana Ervin?” tanya Rian dengan senyum yang aneh tercetak dibibirnya,
sepertinya ia merasakan hal yang aneh.
“Maaf kak! Aira
meninggal tadi malam dan hari ini adalah pemakamannya.” Jelas gadis itu penuh
penyesalan.
Rian membeku
ditempatnya, ia mengingat salah satu ucapan Aira saat itu.
“Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang
humoris begini. Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku elah pergi nanti!”
Selang beberapa lama
setelah ia menguasai kesadarannya dia mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih!”
ucapnya tulus lalu beranjak dari sana, dengan cepat ia kembali kekelas dan
langsung menyambar tasnya dan pergi dari sekolah itu menuju kediaman Ervin.
. . . . . . .
Sampai disana matanya
membelalak kaget, ia kira ucapan gadis satu kelas Aira hanya gurauan semata.
Bagaimana mungkin bisa? Sosok gadis itu pergi setelah sebelumnya bermain hujan dengan
senyuman yang merekah penuh dibibirnya. Itu tidak mungkin?
Didepaan sana telihat
sebuah bendera kuning yang dikibarkan, tanda bahwa salah seorang anggota
keluarga itu meninggal dunia. Rian masuk kedalam rumah itu, saat melihat sosok
Ervin yang terdiam dengan pandangan kosongnya pemuda itu mendekatinya.
“Vin!” panggilnya,
Ervin menoleh sekilas walaupun pandangannya tetap kosong. Raut muka Ervin
seperti seorang yang hanya memiliki raga tanpa jiwa.
Rian mendekatinya dan
memeluk pemuda yang menjadi temannya itu dengan erat. “Sabar Vin, kau harus
tetap semangat seperti dulu!” hibur Rian. Ervin menoleh kearahnya.
“Dia pergi Vin,
satu-satunya semangatku hidup pergi.” Ceritanya seperti mengadu kearah Rian.
“Aku tahu Vin, kamu
yang sabar yah! Mana semua orang Vin?” tanya Rian begitu menyadari bahwa
disekitar sana hanya ada mereka berdua.
“Di pemakaman kota
Yan, memakamkan adikku.” Ucap Ervin masih terlihat raut sedih itu, tapi yang
terbaik sosoknya masih mau berbicara padanya.
Rian menarik Ervin
menuju kendaraannya kemari tadi,
mengendarainya dengan Ervin yang berada di kursi penumpang. Sebuah sepeda yang
lumayan besar, yang selalu menemaninya di SMP itu. Menjalankan sepeda itu
kearah pemakaman kota dengan Ervin bersamanya yang patuh mengikutinya.
“Kita lihat Adikmu
yah Vin!” ajak Rian yang dipatuhi Ervin begitu mereka sampai dipemakaman kota.
Sampai disana langit
menggelap, Ayahnya masih berada disana. Rian mendekati Raditya tak lupa sosok
Ervin yang bersamanya disana. Tepat saat itu juga, Bumi diguyur hujan yang
begitu deras.
“Seperti yang kau
inginkan sayang! Sebuah hujan dihari kepergianmu.” Ucapan Ervin itu membuat
kedua orang yang ada disana menegang. Ervin kembali mengangis dalam guyuran
hujan yang deras itu. Buliran airmatanya bercampur dengan dingginnya air hujan.
“Tapi aku membenci hujan sayang! Karena hujan yang mengambilmu pergi dariku.”
Dipeluknya batu nisan adiknya itu, airmatanya menetes terus menerus kearah
nisan sang adik.
-End
Flashback-
“Sama seperti dulu
yah Vin?” tanya Rian yang baru datang dengan membawa sebuket bunga Lily putih yang indah ditangan
kanannya. Diletakkannya bunga itu dipusara Aira dengan pelan nan hati-hati.
“Kau datang Yan?”
tanya Ervin kaget.
“Walaupun aku hanya
pernah mengenalnya sehari. Tapi sosoknya tak akan pernah kulupakan Vin.” Ucap
Rian dengan senyum tipis dibibirnya.
“Terima kasih Yan, kau
orang yang baik.” Kata Ervin tegas, teringat ucapan Aira dulu sebelum ia
benar-benar pergi darinya.
“Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang
humoris begini. Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku telah pergi nanti!”
“Terima kasih Yan,
kau satu-satunya orang yang selalu ada disampingku, mendukungku tuk terus maju
dan memacu semangatku disaatku terpuruk. Kau sangat baik kepadaku! Kau yang
mengajariku tersenyum kembali disaat Aira pergi dariku. Terima Kasih!” ucap
Ervin.
“Kau tahu, denganku
mengenal adikmu saja aku sudah bersyukur. Dia tetap bisa tersenyum walaupun
penyakit mematikan tengah bersarang ditubuhnya.” Kata Rian dengan senyuman
tipisnya.
“Aku baru sadar Yan,
kau adalah sahabat terbaikku Yan!” Kata Ervin tegas.
“Yah kau juga sahabat
terbaikku.” Ucap Rian membalas dengan senyuman dibibirnya.
Mereka tersenyum
bahagia, masa lalu yang membuat kita terpuruk dan masa depan yang cerah
menunggu kita. Mungkin masa lalu tak akan bisa dilupakan, tapi setidaknya semua
itu bisa berjalan berdampingan. Tak perlu lah kita berusaha sekuat tenaga
menghilangkan masa lalu yang buruk, trauma berkepanjangan atau apapun itu, tapi
jika kita bisa. Bukankah lebih baik jika masa depan dan masa lalu berjalan
berdampingan?
Inilah hidup.
Lukiskan cerita hidupmu dengan semangat, bersyukur dengan apa yang kita miliki
saat ini. Dan sambutlah sebuah kenangan baru, cerita baru didepan matamu dengan
semangat dan jangan putus asa.
TAMAT
Selasa, 04 November 2014
This Light I See-Paku Romi as Hitsugaya Toushirou
Tsumetai yokaze ga me ni sasari
Kudaranai kioku ga afure dasu
Togatta serifu o sora ni hanachi
Chi no aji no nokoru tsuba o haita
"Minna shinjae" tte kuchiguse o
Aitsu wa kokoro kara kanashinda
Mamorou toshite kizutsukeru chikara de
Nani o te ni shite yuku?
I'm believing, this light I see
Tashika na hikari yo
Sakebi dasu ore o machibiite kure
Tsuyosa dake o shinjite kita hibi
Munashisa o katsu tabi ni shitta
Chippoke na kokoro de warau kara
Mou sukoshi tsuyogatte isasete kure
"Hitori de ikiru" tte kuchiguse ni
Aitsu wa sashisou ni hohoenda
Wakarou toshite tsuki hanasu chikara de
Nani o te ni shite yuku?
I'm believing, this light I see
Kodoku na hikari yo
Kurui dasu ore o daki shimete kure
Ore no naka no ichiban yowai kakera ga
Ten no hate e ichiban tsuyoi inori o hanatsu
Ore no naka no ichiban yowai kakera ga
Yami no saki e ichiban tsuyoi omoi o hanatsu
Kokoro o hanatsu
Hikari o hanatsu
I'm believing...
Believing, this light I see
Tashika na hikari yo
Sakebi dasu ore o machibiite kure
I'm believing, this light I see
Kodoku na hikari yo
Kurui dasu ore o kaki shimete kure
TRANSLATION:
The cold night breeze gets caught in my eyes
As meaningless memories flow over me
Shouting harsh words to the sky
I still have the taste of blood on my tongue
The one who had a habit of saying "Believe in everyone"
Is saddened from the depths of her heart
Having power that should protect her can hurt her
What should I do with these hands?
I'm believing this light I see
Unwavering light,
Please guide me as I call out to you
Gradually believing in a daily life founded only on strength
I know that this time the only thing I win is emptiness
From my tiny heart I laugh aloud
Please let me get a little stronger
When I had a habit of saying "I'll live alone"
She smiled at me with a lonely looking smile
Having power to understand her can forsake her
What should I do with these hands?
I'm believing this light I see
Lonely light,
Please embrace me in my confusion
The weakest part of me releases the most powerful prayer
Up to the place where the heavens end
The weakest part of me releases the most powerful emotions
To the place before the darkness
I release my heart
I release this light
I'm believing
Believing this light I see
Unwavering light,
Please guide me as I call out to you
I'm believing this light I see
Lonely light,
Please embrace me in my confusion
Minggu, 23 Februari 2014
Tutorial Cara Sharing Data/File di Windows 7 dengan Kabel LAN
Tutorial Cara Sharing Data/File di Windows 7 dengan Kabel LAN

Tutorial Cara Sharing Data/File di Windows 7 dengan Kabel LAN
- Dengan cara ini transfer file dan folder akan sangat cepat mencapai
10mb - 15mb/s, karena LAN adalah media jaringan yang sangat baik dalam
mentransfer data.Berikut langkah-langkah sharing file di windows 7
dengan kabel LAN antara 2 komputer.
Agar lebih mudah saya bagi menjadi 4 tahap, yaitu :
1. Sharing Folder atau File
2. Mengkoneksikan 2 Komputer menggunakan Kabel LAN
3. Menonaktifkan Password Komputer agar data lebih mudah diakses
4. Mengambil Folder yang Dibagikan(Share)
Penjelasan :
1. Membagikan/Sharing Folder
- Pilih Folder yang akan dishare > klik Share With > pilih Specific people
- Lalu akan muncul jendela berikut
- klik pada icon(Gmb.1), lalu pilih Everyone(Gmb.2) > lalu klik add(Gmb.3) > Pilih Read atau Read/Write(Gmb.4)
- Setelah selesai klik Share untuk membagikan data
- Bila terdapat keterangan "Your Folder is shared", berarti folder berhasil dishare
- Selesai
2. Mengkoneksikan 2 Komputer menggunakan Kabel LAN
- Klik kanan icon Network(lihat gambar), pilih Network and Sharing Center
- Lihat panel sebelah kiri, pilih Change Adapter Settings
- Terdapat banyak pilihan jaringan, pilih Local Area Connection > klik kanan > Properties
- Pilih Internet Protocol Version 4 > Properties
- Atur IP kedua komputer, misal seperti gambar dibawah ini


- Klik ok
- Selesai
3. Menonaktifkan Password Share agar data lebih mudah diakses
- Klik kanan icon(lihat gambar), pilih Network and Sharing Center
- Pilih Change advances sharing settings
- Sorot kebawah, pada pilihan "Password Protect Sharing" pilih "Turn off password protected sharing"
- Klik Save Change
- Selesai
4. Mengakses dan Mengambil Folder yang Dibagikan(Share)
- Pada komputer 2 : Buka Run(Windows + R), pada kolom ketikan "\\192.168.21.1" > klik ok
- lalu akan tampil folder yang telah dishare tadi
Dan sekarang anda sudah dapat mengkopy data teman anda dengan kecepatan
10mb - 15mb/s menggunakan Kabel LAN, selamat mencoba dan semoga
berhasil.
Langganan:
Postingan (Atom)











