Seorang pemuda tengah
berjalan santai menuju sekolahnya, sekolah yang selama tiga tahun ini
menemaninya dalam mengenyam pendidikan. Sosoknya yang tinggi dan kulitnya yang
putih sedikit kecoklatan ditambah dengan warna rambutnya yang coklat dan mata
emeraldnya yang berwarna layaknya daun dimusim gugur. Sosok itu tengah
menenteng bola basket ditangan kirinya, seperti kebiasaannya setiap hari yaitu
bermain basket sebelum kelas akan dimulai.
Nama pemuda itu
adalah Ervin Anthara Putra, eorang senior diklub basket SMA nya. Sampai
disekolah seperti kebiasaannya setiap kali sampai disekolah. Main basket.
“Yo Vin, seperti
biasa yah!” sapa teman seangkatannya yang sama-sama anggota basket yang
langsung memasang defence didepan Ervin. Temannya yang sangat humoris serta
memiliki kepribadian ganda jika harus dipisahkan mana permainan basket dan mana
tidak. Darian pratama atau yang akrab disapa Rian itu memiliki mata nan rambut
berwarna hitam, saat ini ia sedang memasang wajah seriusnya, hilang sudah sosok
humoris yang murah senyum setiap harinya itu.
“Yo!” balas Ervin
menggunakan sapaan khas mereka dan mulai memantulkan bola basketnya itu.
Mendrible kanan dan kiri dengan kecepatan diatas rata-rata.
Dengan cepat Ervin
mengecoh Rian dengan drible’an khasnya yang sangat unik itu, perlahan ia
melambatkan alurnya dan membuat seolah-olah bola itu akan lepas. Dan rian
termakan lagi pemainannya itu untuk kesekian kali. Dia melewati celah yang
dibuat Rian tanpa sadar, dan memasukkan bola itu kedalam ring yang ternyata
bersamaan dengan turunnya hujan.
“Ck sial kenapa harus
hujan sih. Ayo Yan kembali kekelas!” ajaknya langsung yang dibalas anggukan
malas dari Rian karena ia harus kalah lagi dalam one on one mereka untuk yang
kesekian kali tanpa bisa membalasnya hari ini karena hujan turun.
Sebenarnya masalah
hujan itu bukan berada pada sosok Rian melainkan sosok Ervin yang entah mengapa
sangat membenci anugerah tuhan yang satu ini. Entah apa yang membuat Ervin tak
menyukai hujan, padahal saat ia pertama mengenal Ervin sewaktu SMP. Ervin adalah
sosok yang sangat menyukai hujan dari lubuk hatinya.
‘Mungkinkah karena Aira dulu?’ dalam hati ia bertanya. Sedangkan Ervin memandang
hujan dari dalam kelasnya setelah mereka sampai dikelas. Pandangannya memang
mengarah kearah hujan diluar sana tapi fikirannya melayang jauh dimasa silam.
‘Bagaimana keadaanmu disana Aira?’ tanya Ervin dalam hati.
. . . . . . .
Pulang sekolah,
dengan santainya Ervin berjalan kearah pemakaman kota disana, dengan berjalan
kaki yang otomatis membuat sepatunya kotor karena sisa-sisa hujan yang membuat
tanah yang berada disana menjadi gembur.
Sampai didepan sebuah
pusara yang selalu ia kunjungi setiap kali pulang sekolah. Pusara yang hanya
diletakkan sebuah batu nisan untuk mengenalinya itu. Disana tertulis sebuah
nama ‘Aira Afira Putri binti Raditya’
, yah makam dimana ia mulai membenci hujan semasa ia SMP.
. . . . . . .
-Flash
back-
3
tahun lalu...
Sosok gadis manis
berjalan berdampingan dengan sosok pemuda yang tak lain adalah kakak
kandungnya. Dengan senyuman merekah dibibirnya yang menandakan perasaannya yang
sangat bahagia. Rambut coklatnya yang lurus nan panjang ia kuncir kuda dengan
mata coklatnya yang tajam, kontras dengan perawakannya yang lembut. Yah sosok
Aira Afira Putri adik kandung dari Ervin Anthara Putra.
“Bolehkah aku meminta
kak?” tanya Aira lembut kearah sang kakak.
“Boleh mau minta apa
sayang?” tanya kakaknya lembut yah sosok Ervin yang begitu lembut.
“Aku ingin ketaman
bermain kak.” Pintanya memelas yang langsung di sanggupi sang kakak dengan senyuman
yang hangat di bibirnya. Kakak yang penuh perhatian dan kasih sayang kepada
adik semata wayangnya itu yah sosok Ervin saat itu adalah sosok yang lemah
lembut nan penyayang walaupun umur mereka hanya terpaut dua tahun itu tak
sedikitpun mengurangi kasih sayang Ervin kepada Aira.
Aira dengan senyuman
yang tak lepas dari bibirnya itu menyeret Ervin pergi menuju taman bermain
dipusat kota yang sedang dioperasikan hari ini. Siapa yang akan menyengka gadis
kecil itu memiliki sebuah penyakit mematikan yang tak diketahui siapapun
kecuali keluarganya, sebuah Kanker darah yang ia derita semenjak dua tahun
lalu. Apa yang terjadi pada gadis itu, sebuah penyakit mematikan itu tak
sedikitpun mengurangi semangatnya dalam menjalani hidup. Yah, gadis kecil yang
penuh dengan energi positif didirinya.
Sampai disana dengan
semangat ia menarik Ervin kearah penjual es krim, bukannya ingin bermain wahana
yang ada disana tapi setiap kali ketaman bermain pasti yang diincar adalah
eskrim nya. “Jangan makan es krim sayang, ini musim penghujan!” peringat Ervin
lembut tapi hal itu menyebabkan sebuat kerucutan dibibir Aira muncul. Dia
adalah gadis yang keras kepala apapun yang ia inginkan harus terpenuhi jika
bersama kakak satu-satunya itu.
“Kak kumohon! Sekali
ini saja yah!” pintanya memelas kearah kakaknya itu.
Ervin mengangguk tak
kuasa untuk menolak permintaan adik semata wayangnya itu. Dua buah es krim
telah sampai ketangan dua remaja yang hendak tumbuh itu, Ervin memakan
eskrimnya dengan cepat berbeda dengan Aira yang melambatkan acara makannya itu.
Sebuah awan yang
menghitam menarik perhatian Ervin untuk meliriknya. “Sebentar lagi akan hujan,
ayo kita segera pulang!” ajak Ervin yang dibalas gelengan kepala dari sang
Adik.
“Tidak kak sebentar
lagi, kau kan tahu aku suka sekali dengan hujan.” Jawab Aira. Yah gadis itu
sangat menyukai hujan, dan hal itulah yang mendorong Ervin menyukai anugerah
tuhan satu itu.
Ervin mengangguk, tak
jauh darisana ia melihat siluet pemuda yang tak asing dimatanya. Yah ia yakin
mengenal pemuda itu. Dengan percaya diri ia memanggil pemuda itu kearahnya.
“Rian!” teriaknya,
siluet pemuda itu bebralik mencari siapakah gerangan yang memanggilnya, dan
saat mata mereka saling bertemu Rian tersenyum manis seperti biasa.
Rian berjalan kearah
dimana Ervin nan juga Aira duduk untuk menikmati eskrimnya tadi. Dengan
senyuman merekah dibibirnya ia lnagsung merubah senyum itu dengan senyuman
menggoda khas dirinya begitu sampai dihadapan Ervin dan juga Aira.
“Cie pacar baru yah!”
goda Rian yang mendapat sambutan pipi Aira yang memerah malu.
“Bukan.” Sanggah
Ervin cepat.
“Lalu siapa?”
tanyanya penasaran, sebenarnya jarang sekali melihat Ervin membawa jalan-jalan
seorang gadis biasanya ia akan membawa anjingnya jika keluar.
“Perkenalkan, dia
adik kandungku Aira Afira Putri, dan Ra dia teman kakak di kelas dan juga
dibasket Darian Pratama kau kenal dia kan?” Aira mengangguk, ia memang mengenal
Rian yang notabe nya anak terpopuler bersama kakaknya di olahraga yang disebut
basket.
Aira mengulurkan
tangannya saat melihat sosok Rian yang mulutnya sedang menganga, ekspresi
berlebihan yang ditunjukkan Rian itu membuat senyum Aira semakin lebar. “Aira!”
ucapnya tak lupa dengan senyuman manisnya yang tak lepas itu.
“Eh eh aku Darian
panggil saja Rian.” Tak mau menyia-nyiakan uluran tangan itu dengan segera ia
menyambarnya tak lupa dengan senyuman khas miliknya setiap hari. “Oh aku baru
tahu kau punya adik Vin?” tanya Rian setelah jabat tangan singkat itu terlepas.
“Aku tak memberitahu
siapapun.” Jawab Ervin datar, Rian hanya memiringkan wajahnya bingung.
“Kakak ku satu ini
pasti akan memang tak memberitahukan tentang keluarganya sejak dulu bukan? Kan
memang sifat dasar kakak seperti itu.” Ujar Aira sambil meledek kearah kakaknya
dengan matanya.
Rian mengengguk paham
apa yang dimaksud Aira. “Memang kan nih anak satu tertutup banget Ra, iya kan?”
pertanyaan Rian yang dibalas anggukkan semangat dari Aira.
“Sepertinya kita
mudah berkomunikasi yah!” ucap Aira tersenyum lalu ber-tos ria dengan Rian.
“Seharusnya tadi aku
tak usah memanggilmu jika aku harus diabaikan begini.” Ujar Ervin dengan
dengusan dibirnya.
Kedua orang itu yang
merasa tersindir hanya tertawa riang mengabaikan dengusan Ervin yang semakin
parah. “Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang humoris begini.
Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku telah pergi nanti!” ucap Aira polos dan
tanpa sadar mengucapkan kata yang mungkin sangat dibenci oleh sosok Ervin.
“Apa maksudmu berucap
begitu Ra?” tanya Ervin geram, ia tak mau kehilangan adik satu-satunya itu.
“Eh Vin gak usah
marah, gak sengaja dia Vin!”Lerai Rian yang memang tak menyadari penyakit Aira.
Hampir saja Ervin membuka mulutnya lagi sebuah rintikan hujan nan kecil-kecil
itu jatuh mengenai tubuh mereka bertiga.
Aira mendongak
menatap rintikan hujan yang kian lama berubah menjadi deras itu. Ia tak
beranjak dari posisinya berdiri begitu juga Ervin yang dengan setia menemaninya
bermain hujan. Berbeda dengan Rian yang sudah berteduh dibawah poson yang dekat
dengan tempat itu. “Hey Aira jangan main hujan, sini ikutan berteduh
denganku!”Ajaknya kearah Aira mengabaikan Ervin yang memang setiap kali ia ajak
berteduh dari hujan selalu menolaknya mentah-mentah.
Aira hanya
menggeleng, mengibaskan rambut basahnya itu dan berteriak kencang. “KARENA AKU
SUKA HUJAN!” Teriaknya kearah Rian yang membuat pemuda itu tertegun. Jawaban
yang sama seperti yang Ervin beikan padanya setiap kali ia mengajak pemuda itu
berteduh.
‘Karena aku suka Hujan!’ kalimat itu masih ia ingat jelas dalam memori
otaknya.
Rian tersenyum
memandang dua insan yang saling tersenyum itu, mereka menikmati guyuran hujan
yang deras dikota itu dengan senyuman yang tak lepas sedikitpun dari bibir
Aira. Bahkan ia tak tahu jika Aira memiliki sebuah penyakit mematikan.
. . . . . . .
Malah harinya dirumah
sakit umum kota itu, sosok ringkih tertidur lemah diatas tempat tidup pasien
dengan beberapa alat medit berada ditubuhnya. Sosok gadis yang beberapa saat
lalu dinyatakan kritis oleh dokter spesiailis khusus menanganinya. Diluar
ruangan itu sosok paruh baya tengah menghardik anaknya yang paling besar.
“Bagaimana bisa
begini? Kau membiarkannya bermain hujan lagi!” hardik Raditya kearah Ervin yang
hanya dibalas Ervin dengan menundukkan kepala, ia tak berani melihat kearah
mata Ayah kandungnya tersebut dan sesekali melirihkan kata maaf yang tak
burujung dari bibirnya.
“Bapak dan Saudara
dari Aira, kalian diminta masuk oleh gadis itu.” Ujar sang dokter yang langsung
mendapat balasan gerakan dari keduanya.
Sampai diruangan
bercat putih nan penuh bau obat-obatan itu mereka terdiam. Aira membuka matanya
perlahan. “Ayah ! kakak!” panggilnya lirih, ingin sekali ia tersenyum tapi tak
bisa.
“Jangan memaksakan
dirimu Ira!” lerai sang ayah yang melihat sosok itu sedang berusaha tersenyum
yang sangat sulit untuk dilakukan.
“Ayah jangan marah ke
kak Ervin ya! Aku yang minta kak Ervin membiarkanku bermain hujan.” Perintah
Aira walaupun suaranya lirih tapi cukup untuk didengar kedua orang yang paling
ia cintai tersebut.
“Ya Ayah janji
sayang.” Janji Ayahnya itu. Lalu pandangannya beralih kearah kakaknya.
“Kakak jangan
menyalahkan diri kakak, Aira senang sekali kak bisa membuat kak Ervin tertawa
setiap hari. Tapi maaf kak Aira harus pergi.” Ucap Aira dengan nada menyesal
didalamnya.
“Jangan tinggalkan
kakak Ra!” pinta Ervin, ia tak mau kehilangan adiknya itu, adik yang selalu
mewarnai hidupnya itu.
“Maafkan Aira kakak
dan juga Ayah!” Raditya mengangguk, lalu Aira menutup matanya perlahan detak
jantungnya melemah dan melemah hingga suara memilukan dari alat pendetek detak
jantung itu berbunyi nyaring.
“TIDAK, TIDAK
MUNGKIN! AIRA GAK PERGI KAN YAH? AIRA GAK PERGI KAN?” Tanya Ervin kepada sosok
ayahnya yang bungkam itu. Ayahnya hanya tersenyum tipis nan penuh kepedihan.
“TIDAK, SEMUA INI HANYA MIMPI. AIRA TAK AKAN PERGI NINGGALIN AKU AYAH!” Ucap
Ervin histeris lalu mendekati sosok gadis yang tubuhnya perlahan memucat itu.
“Aira kan janji pada
kakak ya? Aira gak akan ninggalin kakak kemanapun? Tapi kenapa Aira pergi hari
ini?” tanyanya pilu. Raditya yang melihat anak sulungnya bertanya kepada mayat
anak bungsunya langsung memeluk sosok anak sulungnya itu erat. Memberikan
kekuatan untuk Ervin.
Ervin hanya menangis
terisak dalam pelukan Ayahnya. Hari ini hari terakhir ia dapat melihat sosok
Adiknya yang paling riang, ceria nan penuh semangat itu.
. . . . . . .
Dipagi hari disekolah
SMP Permata Bangsa itu, sosok Rian sedang dipenuhi tanda tanya besar di dalam
kepalanya. Ervin tak masuk hari ini dan hal itu membuat Rian keheranan. Jam
istirahat ia berencana untuk menemui sosok Aira yang ia ketahui juga bersekolah
di SMP yang sama dengannya, adik kelas nya dikelas satu itu.
Jam istirahatpun tiba,
dengan segera ia menuju koridor anak kelas tujuh dan kelas yang ditempati Aira
setelah ia bertanya kepada adik-adik kelasnya yang lain.
“Hey lihat Aira
tidak?” tanyanya kearah salah satu anak dikelas itu, anak gadis itu menggeleng
dan menjawab pertanyaan Rian dengan senyum pedih.
“Ia tak masuk kak,
ada pesan? Nanti akan kuberitahukan kakaknya.” Ucap gadis itu dengan senyum
yang dipaksakan.
“Ah aku hanya tanya
dimana Ervin?” tanya Rian dengan senyum yang aneh tercetak dibibirnya,
sepertinya ia merasakan hal yang aneh.
“Maaf kak! Aira
meninggal tadi malam dan hari ini adalah pemakamannya.” Jelas gadis itu penuh
penyesalan.
Rian membeku
ditempatnya, ia mengingat salah satu ucapan Aira saat itu.
“Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang
humoris begini. Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku elah pergi nanti!”
Selang beberapa lama
setelah ia menguasai kesadarannya dia mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih!”
ucapnya tulus lalu beranjak dari sana, dengan cepat ia kembali kekelas dan
langsung menyambar tasnya dan pergi dari sekolah itu menuju kediaman Ervin.
. . . . . . .
Sampai disana matanya
membelalak kaget, ia kira ucapan gadis satu kelas Aira hanya gurauan semata.
Bagaimana mungkin bisa? Sosok gadis itu pergi setelah sebelumnya bermain hujan dengan
senyuman yang merekah penuh dibibirnya. Itu tidak mungkin?
Didepaan sana telihat
sebuah bendera kuning yang dikibarkan, tanda bahwa salah seorang anggota
keluarga itu meninggal dunia. Rian masuk kedalam rumah itu, saat melihat sosok
Ervin yang terdiam dengan pandangan kosongnya pemuda itu mendekatinya.
“Vin!” panggilnya,
Ervin menoleh sekilas walaupun pandangannya tetap kosong. Raut muka Ervin
seperti seorang yang hanya memiliki raga tanpa jiwa.
Rian mendekatinya dan
memeluk pemuda yang menjadi temannya itu dengan erat. “Sabar Vin, kau harus
tetap semangat seperti dulu!” hibur Rian. Ervin menoleh kearahnya.
“Dia pergi Vin,
satu-satunya semangatku hidup pergi.” Ceritanya seperti mengadu kearah Rian.
“Aku tahu Vin, kamu
yang sabar yah! Mana semua orang Vin?” tanya Rian begitu menyadari bahwa
disekitar sana hanya ada mereka berdua.
“Di pemakaman kota
Yan, memakamkan adikku.” Ucap Ervin masih terlihat raut sedih itu, tapi yang
terbaik sosoknya masih mau berbicara padanya.
Rian menarik Ervin
menuju kendaraannya kemari tadi,
mengendarainya dengan Ervin yang berada di kursi penumpang. Sebuah sepeda yang
lumayan besar, yang selalu menemaninya di SMP itu. Menjalankan sepeda itu
kearah pemakaman kota dengan Ervin bersamanya yang patuh mengikutinya.
“Kita lihat Adikmu
yah Vin!” ajak Rian yang dipatuhi Ervin begitu mereka sampai dipemakaman kota.
Sampai disana langit
menggelap, Ayahnya masih berada disana. Rian mendekati Raditya tak lupa sosok
Ervin yang bersamanya disana. Tepat saat itu juga, Bumi diguyur hujan yang
begitu deras.
“Seperti yang kau
inginkan sayang! Sebuah hujan dihari kepergianmu.” Ucapan Ervin itu membuat
kedua orang yang ada disana menegang. Ervin kembali mengangis dalam guyuran
hujan yang deras itu. Buliran airmatanya bercampur dengan dingginnya air hujan.
“Tapi aku membenci hujan sayang! Karena hujan yang mengambilmu pergi dariku.”
Dipeluknya batu nisan adiknya itu, airmatanya menetes terus menerus kearah
nisan sang adik.
-End
Flashback-
“Sama seperti dulu
yah Vin?” tanya Rian yang baru datang dengan membawa sebuket bunga Lily putih yang indah ditangan
kanannya. Diletakkannya bunga itu dipusara Aira dengan pelan nan hati-hati.
“Kau datang Yan?”
tanya Ervin kaget.
“Walaupun aku hanya
pernah mengenalnya sehari. Tapi sosoknya tak akan pernah kulupakan Vin.” Ucap
Rian dengan senyum tipis dibibirnya.
“Terima kasih Yan, kau
orang yang baik.” Kata Ervin tegas, teringat ucapan Aira dulu sebelum ia
benar-benar pergi darinya.
“Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang
humoris begini. Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku telah pergi nanti!”
“Terima kasih Yan,
kau satu-satunya orang yang selalu ada disampingku, mendukungku tuk terus maju
dan memacu semangatku disaatku terpuruk. Kau sangat baik kepadaku! Kau yang
mengajariku tersenyum kembali disaat Aira pergi dariku. Terima Kasih!” ucap
Ervin.
“Kau tahu, denganku
mengenal adikmu saja aku sudah bersyukur. Dia tetap bisa tersenyum walaupun
penyakit mematikan tengah bersarang ditubuhnya.” Kata Rian dengan senyuman
tipisnya.
“Aku baru sadar Yan,
kau adalah sahabat terbaikku Yan!” Kata Ervin tegas.
“Yah kau juga sahabat
terbaikku.” Ucap Rian membalas dengan senyuman dibibirnya.
Mereka tersenyum
bahagia, masa lalu yang membuat kita terpuruk dan masa depan yang cerah
menunggu kita. Mungkin masa lalu tak akan bisa dilupakan, tapi setidaknya semua
itu bisa berjalan berdampingan. Tak perlu lah kita berusaha sekuat tenaga
menghilangkan masa lalu yang buruk, trauma berkepanjangan atau apapun itu, tapi
jika kita bisa. Bukankah lebih baik jika masa depan dan masa lalu berjalan
berdampingan?
Inilah hidup.
Lukiskan cerita hidupmu dengan semangat, bersyukur dengan apa yang kita miliki
saat ini. Dan sambutlah sebuah kenangan baru, cerita baru didepan matamu dengan
semangat dan jangan putus asa.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar