Label

Jumat, 30 Januari 2015

Tetesan Batu Nisan - Cerpen



Seorang pemuda tengah berjalan santai menuju sekolahnya, sekolah yang selama tiga tahun ini menemaninya dalam mengenyam pendidikan. Sosoknya yang tinggi dan kulitnya yang putih sedikit kecoklatan ditambah dengan warna rambutnya yang coklat dan mata emeraldnya yang berwarna layaknya daun dimusim gugur. Sosok itu tengah menenteng bola basket ditangan kirinya, seperti kebiasaannya setiap hari yaitu bermain basket sebelum kelas akan dimulai.
Nama pemuda itu adalah Ervin Anthara Putra, eorang senior diklub basket SMA nya. Sampai disekolah seperti kebiasaannya setiap kali sampai disekolah. Main basket.
“Yo Vin, seperti biasa yah!” sapa teman seangkatannya yang sama-sama anggota basket yang langsung memasang defence didepan Ervin. Temannya yang sangat humoris serta memiliki kepribadian ganda jika harus dipisahkan mana permainan basket dan mana tidak. Darian pratama atau yang akrab disapa Rian itu memiliki mata nan rambut berwarna hitam, saat ini ia sedang memasang wajah seriusnya, hilang sudah sosok humoris yang murah senyum setiap harinya itu.
“Yo!” balas Ervin menggunakan sapaan khas mereka dan mulai memantulkan bola basketnya itu. Mendrible kanan dan kiri dengan kecepatan diatas rata-rata.
Dengan cepat Ervin mengecoh Rian dengan drible’an khasnya yang sangat unik itu, perlahan ia melambatkan alurnya dan membuat seolah-olah bola itu akan lepas. Dan rian termakan lagi pemainannya itu untuk kesekian kali. Dia melewati celah yang dibuat Rian tanpa sadar, dan memasukkan bola itu kedalam ring yang ternyata bersamaan dengan turunnya hujan.
“Ck sial kenapa harus hujan sih. Ayo Yan kembali kekelas!” ajaknya langsung yang dibalas anggukan malas dari Rian karena ia harus kalah lagi dalam one on one mereka untuk yang kesekian kali tanpa bisa membalasnya hari ini karena hujan turun.
Sebenarnya masalah hujan itu bukan berada pada sosok Rian melainkan sosok Ervin yang entah mengapa sangat membenci anugerah tuhan yang satu ini. Entah apa yang membuat Ervin tak menyukai hujan, padahal saat ia pertama mengenal Ervin sewaktu SMP. Ervin adalah sosok yang sangat menyukai hujan dari lubuk hatinya.
‘Mungkinkah karena Aira dulu?’ dalam hati ia bertanya. Sedangkan Ervin memandang hujan dari dalam kelasnya setelah mereka sampai dikelas. Pandangannya memang mengarah kearah hujan diluar sana tapi fikirannya melayang jauh dimasa silam.
‘Bagaimana keadaanmu disana Aira?’ tanya Ervin dalam hati.
. . . . . . .
Pulang sekolah, dengan santainya Ervin berjalan kearah pemakaman kota disana, dengan berjalan kaki yang otomatis membuat sepatunya kotor karena sisa-sisa hujan yang membuat tanah yang berada disana menjadi gembur.
Sampai didepan sebuah pusara yang selalu ia kunjungi setiap kali pulang sekolah. Pusara yang hanya diletakkan sebuah batu nisan untuk mengenalinya itu. Disana tertulis sebuah nama ‘Aira Afira Putri binti Raditya’ , yah makam dimana ia mulai membenci hujan semasa ia SMP.
. . . . . . .

-Flash back-
3 tahun lalu...
Sosok gadis manis berjalan berdampingan dengan sosok pemuda yang tak lain adalah kakak kandungnya. Dengan senyuman merekah dibibirnya yang menandakan perasaannya yang sangat bahagia. Rambut coklatnya yang lurus nan panjang ia kuncir kuda dengan mata coklatnya yang tajam, kontras dengan perawakannya yang lembut. Yah sosok Aira Afira Putri adik kandung dari Ervin Anthara Putra.
“Bolehkah aku meminta kak?” tanya Aira lembut kearah sang kakak.
“Boleh mau minta apa sayang?” tanya kakaknya lembut yah sosok Ervin yang begitu lembut.
“Aku ingin ketaman bermain kak.” Pintanya memelas yang langsung di sanggupi sang kakak dengan senyuman yang hangat di bibirnya. Kakak yang penuh perhatian dan kasih sayang kepada adik semata wayangnya itu yah sosok Ervin saat itu adalah sosok yang lemah lembut nan penyayang walaupun umur mereka hanya terpaut dua tahun itu tak sedikitpun mengurangi kasih sayang Ervin kepada Aira.
Aira dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya itu menyeret Ervin pergi menuju taman bermain dipusat kota yang sedang dioperasikan hari ini. Siapa yang akan menyengka gadis kecil itu memiliki sebuah penyakit mematikan yang tak diketahui siapapun kecuali keluarganya, sebuah Kanker darah yang ia derita semenjak dua tahun lalu. Apa yang terjadi pada gadis itu, sebuah penyakit mematikan itu tak sedikitpun mengurangi semangatnya dalam menjalani hidup. Yah, gadis kecil yang penuh dengan energi positif didirinya.
Sampai disana dengan semangat ia menarik Ervin kearah penjual es krim, bukannya ingin bermain wahana yang ada disana tapi setiap kali ketaman bermain pasti yang diincar adalah eskrim nya. “Jangan makan es krim sayang, ini musim penghujan!” peringat Ervin lembut tapi hal itu menyebabkan sebuat kerucutan dibibir Aira muncul. Dia adalah gadis yang keras kepala apapun yang ia inginkan harus terpenuhi jika bersama kakak satu-satunya itu.
“Kak kumohon! Sekali ini saja yah!” pintanya memelas kearah kakaknya itu.
Ervin mengangguk tak kuasa untuk menolak permintaan adik semata wayangnya itu. Dua buah es krim telah sampai ketangan dua remaja yang hendak tumbuh itu, Ervin memakan eskrimnya dengan cepat berbeda dengan Aira yang melambatkan acara makannya itu.
Sebuah awan yang menghitam menarik perhatian Ervin untuk meliriknya. “Sebentar lagi akan hujan, ayo kita segera pulang!” ajak Ervin yang dibalas gelengan kepala dari sang Adik.
“Tidak kak sebentar lagi, kau kan tahu aku suka sekali dengan hujan.” Jawab Aira. Yah gadis itu sangat menyukai hujan, dan hal itulah yang mendorong Ervin menyukai anugerah tuhan satu itu.
Ervin mengangguk, tak jauh darisana ia melihat siluet pemuda yang tak asing dimatanya. Yah ia yakin mengenal pemuda itu. Dengan percaya diri ia memanggil pemuda itu kearahnya.
“Rian!” teriaknya, siluet pemuda itu bebralik mencari siapakah gerangan yang memanggilnya, dan saat mata mereka saling bertemu Rian tersenyum manis seperti biasa.
Rian berjalan kearah dimana Ervin nan juga Aira duduk untuk menikmati eskrimnya tadi. Dengan senyuman merekah dibibirnya ia lnagsung merubah senyum itu dengan senyuman menggoda khas dirinya begitu sampai dihadapan Ervin dan juga Aira.
“Cie pacar baru yah!” goda Rian yang mendapat sambutan pipi Aira yang memerah malu.
“Bukan.” Sanggah Ervin cepat.
“Lalu siapa?” tanyanya penasaran, sebenarnya jarang sekali melihat Ervin membawa jalan-jalan seorang gadis biasanya ia akan membawa anjingnya jika keluar.
“Perkenalkan, dia adik kandungku Aira Afira Putri, dan Ra dia teman kakak di kelas dan juga dibasket Darian Pratama kau kenal dia kan?” Aira mengangguk, ia memang mengenal Rian yang notabe nya anak terpopuler bersama kakaknya di olahraga yang disebut basket.
Aira mengulurkan tangannya saat melihat sosok Rian yang mulutnya sedang menganga, ekspresi berlebihan yang ditunjukkan Rian itu membuat senyum Aira semakin lebar. “Aira!” ucapnya tak lupa dengan senyuman manisnya yang tak lepas itu.
“Eh eh aku Darian panggil saja Rian.” Tak mau menyia-nyiakan uluran tangan itu dengan segera ia menyambarnya tak lupa dengan senyuman khas miliknya setiap hari. “Oh aku baru tahu kau punya adik Vin?” tanya Rian setelah jabat tangan singkat itu terlepas.
“Aku tak memberitahu siapapun.” Jawab Ervin datar, Rian hanya memiringkan wajahnya bingung.
“Kakak ku satu ini pasti akan memang tak memberitahukan tentang keluarganya sejak dulu bukan? Kan memang sifat dasar kakak seperti itu.” Ujar Aira sambil meledek kearah kakaknya dengan matanya.
Rian mengengguk paham apa yang dimaksud Aira. “Memang kan nih anak satu tertutup banget Ra, iya kan?” pertanyaan Rian yang dibalas anggukkan semangat dari Aira.
“Sepertinya kita mudah berkomunikasi yah!” ucap Aira tersenyum lalu ber-tos ria dengan Rian.
“Seharusnya tadi aku tak usah memanggilmu jika aku harus diabaikan begini.” Ujar Ervin dengan dengusan dibirnya.
Kedua orang itu yang merasa tersindir hanya tertawa riang mengabaikan dengusan Ervin yang semakin parah. “Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang humoris begini. Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku telah pergi nanti!” ucap Aira polos dan tanpa sadar mengucapkan kata yang mungkin sangat dibenci oleh sosok Ervin.
“Apa maksudmu berucap begitu Ra?” tanya Ervin geram, ia tak mau kehilangan adik satu-satunya itu.
“Eh Vin gak usah marah, gak sengaja dia Vin!”Lerai Rian yang memang tak menyadari penyakit Aira. Hampir saja Ervin membuka mulutnya lagi sebuah rintikan hujan nan kecil-kecil itu jatuh mengenai tubuh mereka bertiga.
Aira mendongak menatap rintikan hujan yang kian lama berubah menjadi deras itu. Ia tak beranjak dari posisinya berdiri begitu juga Ervin yang dengan setia menemaninya bermain hujan. Berbeda dengan Rian yang sudah berteduh dibawah poson yang dekat dengan tempat itu. “Hey Aira jangan main hujan, sini ikutan berteduh denganku!”Ajaknya kearah Aira mengabaikan Ervin yang memang setiap kali ia ajak berteduh dari hujan selalu menolaknya mentah-mentah.
Aira hanya menggeleng, mengibaskan rambut basahnya itu dan berteriak kencang. “KARENA AKU SUKA HUJAN!” Teriaknya kearah Rian yang membuat pemuda itu tertegun. Jawaban yang sama seperti yang Ervin beikan padanya setiap kali ia mengajak pemuda itu berteduh.
‘Karena aku suka Hujan!’ kalimat itu masih ia ingat jelas dalam memori otaknya.
Rian tersenyum memandang dua insan yang saling tersenyum itu, mereka menikmati guyuran hujan yang deras dikota itu dengan senyuman yang tak lepas sedikitpun dari bibir Aira. Bahkan ia tak tahu jika Aira memiliki sebuah penyakit mematikan.
. . . . . . .
Malah harinya dirumah sakit umum kota itu, sosok ringkih tertidur lemah diatas tempat tidup pasien dengan beberapa alat medit berada ditubuhnya. Sosok gadis yang beberapa saat lalu dinyatakan kritis oleh dokter spesiailis khusus menanganinya. Diluar ruangan itu sosok paruh baya tengah menghardik anaknya yang paling besar.
“Bagaimana bisa begini? Kau membiarkannya bermain hujan lagi!” hardik Raditya kearah Ervin yang hanya dibalas Ervin dengan menundukkan kepala, ia tak berani melihat kearah mata Ayah kandungnya tersebut dan sesekali melirihkan kata maaf yang tak burujung dari bibirnya.
“Bapak dan Saudara dari Aira, kalian diminta masuk oleh gadis itu.” Ujar sang dokter yang langsung mendapat balasan gerakan dari keduanya.
Sampai diruangan bercat putih nan penuh bau obat-obatan itu mereka terdiam. Aira membuka matanya perlahan. “Ayah ! kakak!” panggilnya lirih, ingin sekali ia tersenyum tapi tak bisa.
“Jangan memaksakan dirimu Ira!” lerai sang ayah yang melihat sosok itu sedang berusaha tersenyum yang sangat sulit untuk dilakukan.
“Ayah jangan marah ke kak Ervin ya! Aku yang minta kak Ervin membiarkanku bermain hujan.” Perintah Aira walaupun suaranya lirih tapi cukup untuk didengar kedua orang yang paling ia cintai tersebut.
“Ya Ayah janji sayang.” Janji Ayahnya itu. Lalu pandangannya beralih kearah kakaknya.
“Kakak jangan menyalahkan diri kakak, Aira senang sekali kak bisa membuat kak Ervin tertawa setiap hari. Tapi maaf kak Aira harus pergi.” Ucap Aira dengan nada menyesal didalamnya.
“Jangan tinggalkan kakak Ra!” pinta Ervin, ia tak mau kehilangan adiknya itu, adik yang selalu mewarnai hidupnya itu.
“Maafkan Aira kakak dan juga Ayah!” Raditya mengangguk, lalu Aira menutup matanya perlahan detak jantungnya melemah dan melemah hingga suara memilukan dari alat pendetek detak jantung itu berbunyi nyaring.
“TIDAK, TIDAK MUNGKIN! AIRA GAK PERGI KAN YAH? AIRA GAK PERGI KAN?” Tanya Ervin kepada sosok ayahnya yang bungkam itu. Ayahnya hanya tersenyum tipis nan penuh kepedihan. “TIDAK, SEMUA INI HANYA MIMPI. AIRA TAK AKAN PERGI NINGGALIN AKU AYAH!” Ucap Ervin histeris lalu mendekati sosok gadis yang tubuhnya perlahan memucat itu.
“Aira kan janji pada kakak ya? Aira gak akan ninggalin kakak kemanapun? Tapi kenapa Aira pergi hari ini?” tanyanya pilu. Raditya yang melihat anak sulungnya bertanya kepada mayat anak bungsunya langsung memeluk sosok anak sulungnya itu erat. Memberikan kekuatan untuk Ervin.
Ervin hanya menangis terisak dalam pelukan Ayahnya. Hari ini hari terakhir ia dapat melihat sosok Adiknya yang paling riang, ceria nan penuh semangat itu.
. . . . . . .
Dipagi hari disekolah SMP Permata Bangsa itu, sosok Rian sedang dipenuhi tanda tanya besar di dalam kepalanya. Ervin tak masuk hari ini dan hal itu membuat Rian keheranan. Jam istirahat ia berencana untuk menemui sosok Aira yang ia ketahui juga bersekolah di SMP yang sama dengannya, adik kelas nya dikelas satu itu.
Jam istirahatpun tiba, dengan segera ia menuju koridor anak kelas tujuh dan kelas yang ditempati Aira setelah ia bertanya kepada adik-adik kelasnya yang lain.
“Hey lihat Aira tidak?” tanyanya kearah salah satu anak dikelas itu, anak gadis itu menggeleng dan menjawab pertanyaan Rian dengan senyum pedih.
“Ia tak masuk kak, ada pesan? Nanti akan kuberitahukan kakaknya.” Ucap gadis itu dengan senyum yang dipaksakan.
“Ah aku hanya tanya dimana Ervin?” tanya Rian dengan senyum yang aneh tercetak dibibirnya, sepertinya ia merasakan hal yang aneh.
“Maaf kak! Aira meninggal tadi malam dan hari ini adalah pemakamannya.” Jelas gadis itu penuh penyesalan.
Rian membeku ditempatnya, ia mengingat salah satu ucapan Aira saat itu.
“Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang humoris begini. Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku elah pergi nanti!”
Selang beberapa lama setelah ia menguasai kesadarannya dia mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih!” ucapnya tulus lalu beranjak dari sana, dengan cepat ia kembali kekelas dan langsung menyambar tasnya dan pergi dari sekolah itu menuju kediaman Ervin.
. . . . . . .
Sampai disana matanya membelalak kaget, ia kira ucapan gadis satu kelas Aira hanya gurauan semata. Bagaimana mungkin bisa? Sosok gadis itu pergi setelah sebelumnya bermain hujan dengan senyuman yang merekah penuh dibibirnya. Itu tidak mungkin?
Didepaan sana telihat sebuah bendera kuning yang dikibarkan, tanda bahwa salah seorang anggota keluarga itu meninggal dunia. Rian masuk kedalam rumah itu, saat melihat sosok Ervin yang terdiam dengan pandangan kosongnya pemuda itu mendekatinya.
“Vin!” panggilnya, Ervin menoleh sekilas walaupun pandangannya tetap kosong. Raut muka Ervin seperti seorang yang hanya memiliki raga tanpa jiwa.
Rian mendekatinya dan memeluk pemuda yang menjadi temannya itu dengan erat. “Sabar Vin, kau harus tetap semangat seperti dulu!” hibur Rian. Ervin menoleh kearahnya.
“Dia pergi Vin, satu-satunya semangatku hidup pergi.” Ceritanya seperti mengadu kearah Rian.
“Aku tahu Vin, kamu yang sabar yah! Mana semua orang Vin?” tanya Rian begitu menyadari bahwa disekitar sana hanya ada mereka berdua.
“Di pemakaman kota Yan, memakamkan adikku.” Ucap Ervin masih terlihat raut sedih itu, tapi yang terbaik sosoknya masih mau berbicara padanya.
Rian menarik Ervin menuju  kendaraannya kemari tadi, mengendarainya dengan Ervin yang berada di kursi penumpang. Sebuah sepeda yang lumayan besar, yang selalu menemaninya di SMP itu. Menjalankan sepeda itu kearah pemakaman kota dengan Ervin bersamanya yang patuh mengikutinya.
“Kita lihat Adikmu yah Vin!” ajak Rian yang dipatuhi Ervin begitu mereka sampai dipemakaman kota.
Sampai disana langit menggelap, Ayahnya masih berada disana. Rian mendekati Raditya tak lupa sosok Ervin yang bersamanya disana. Tepat saat itu juga, Bumi diguyur hujan yang begitu deras.
“Seperti yang kau inginkan sayang! Sebuah hujan dihari kepergianmu.” Ucapan Ervin itu membuat kedua orang yang ada disana menegang. Ervin kembali mengangis dalam guyuran hujan yang deras itu. Buliran airmatanya bercampur dengan dingginnya air hujan. “Tapi aku membenci hujan sayang! Karena hujan yang mengambilmu pergi dariku.” Dipeluknya batu nisan adiknya itu, airmatanya menetes terus menerus kearah nisan sang adik.
-End Flashback-

“Sama seperti dulu yah Vin?” tanya Rian yang baru datang dengan membawa  sebuket bunga Lily putih yang indah ditangan kanannya. Diletakkannya bunga itu dipusara Aira dengan pelan nan hati-hati.
“Kau datang Yan?” tanya Ervin kaget.
“Walaupun aku hanya pernah mengenalnya sehari. Tapi sosoknya tak akan pernah kulupakan Vin.” Ucap Rian dengan senyum tipis dibibirnya.
“Terima kasih Yan, kau orang yang baik.” Kata Ervin tegas, teringat ucapan Aira dulu sebelum ia benar-benar pergi darinya.
“Hahaha, enak tahu kak jadi dirimu, punya teman yang humoris begini. Jadi hidupmu tak kan sepi lagi jika aku telah pergi nanti!”
“Terima kasih Yan, kau satu-satunya orang yang selalu ada disampingku, mendukungku tuk terus maju dan memacu semangatku disaatku terpuruk. Kau sangat baik kepadaku! Kau yang mengajariku tersenyum kembali disaat Aira pergi dariku. Terima Kasih!” ucap Ervin.
“Kau tahu, denganku mengenal adikmu saja aku sudah bersyukur. Dia tetap bisa tersenyum walaupun penyakit mematikan tengah bersarang ditubuhnya.” Kata Rian dengan senyuman tipisnya.
“Aku baru sadar Yan, kau adalah sahabat terbaikku Yan!” Kata Ervin tegas.
“Yah kau juga sahabat terbaikku.” Ucap Rian membalas dengan senyuman dibibirnya.
Mereka tersenyum bahagia, masa lalu yang membuat kita terpuruk dan masa depan yang cerah menunggu kita. Mungkin masa lalu tak akan bisa dilupakan, tapi setidaknya semua itu bisa berjalan berdampingan. Tak perlu lah kita berusaha sekuat tenaga menghilangkan masa lalu yang buruk, trauma berkepanjangan atau apapun itu, tapi jika kita bisa. Bukankah lebih baik jika masa depan dan masa lalu berjalan berdampingan?
Inilah hidup. Lukiskan cerita hidupmu dengan semangat, bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Dan sambutlah sebuah kenangan baru, cerita baru didepan matamu dengan semangat dan jangan putus asa.
TAMAT

Hikari_Hitsugaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar